I believe

I believe in life and love

28/11/2011

Pada sebuah masa ketika aku mencoba berbahagia


Pada sebuah masa ketika aku mencoba berbahagia
Dikala penderitaan begitu nyeri hingga aku mati rasa
Ketika sampai pada kesadaran
Bahwa tangis tak pernah menghasilkan apa apa

Kucoba untuk lupa
Akan rasa sakit dan derita
Karena ketika kuingat pun percuma
Tiada akhir yang terbawa

Kumatikan tombol sakit itu
Kutekan tombol Pause dalam deritaku
Biarkan dia berhenti sejenak
Memberi ruang senyum dan tawa walau itu hanya sementara

Kuhirup udara segar yang berhembus
Kubuka mata dan kutajamkan telinga dan semua indra
Pencarian dan pensyukuran atas segala keindahan sederhana
Akhirnya aku masih bisa tersenyum bahagia

Aku masih bisa hidup dan menikmati sang kala
Kala saat ini
Kala aku tertawa
Kala aku tak lagi berpikir esok lusa
Karna saat ini aku menikmati bahagia walau jika hanya untuk detik ini saja

Berkata


Aku ingin berkata
tentang rasa
tentang kita
tapi tak satupun kata sanggup keluar
rasa itu terlalu luas mengalir dalam jiwa
hanya dapat berharap kau dapat membaca kata
saat kau menatap pada mataku yang mencoba menulis isi hati di udara
hanya berharap
kau dapat merasa semua yang aku rasa
pada tatapan mata
saat bibir sudah tak sanggup berkata...

Museum di Adelaide

Di Adelaide saya berkesempatan mengunjungi Historical Museumnya, banyak karya aborigin yang di display dan anak anak sekolah yang masih kecil yang dibawa ke museum olah orang tuanya, bahkan juga anak-anak penyandang cacat termasuk mentally disabled. Betapa mereka begitu menghargai dan berusaha menambah khasanah dan wawasan anak-anak mereka apalagi ditunjang pula dengan museum yang ber AC dingin, dilengkapi display yang bukan sekedar dipajang begitu saja tapi diorama yang cantik, film tentang masyarakat aborigin, dan sebagainya. Jadi inget kota sendiri dan berharap kapan ya Museum kita ngga kalah dengan museum negara-negara lain, bisa mengajak anak-anak kita melihat kehidupan nenek moyang atau keadaan dulu di tempat yang mereka tinggal sekarang, pergi ke museum dan melihat dengan antusias bukan sekedar jalan cepat karena bosan liat display yang sekadarnya.

Sands in a hand

Relationships - of all kinds - are like sand held in your hand. Held loosely, with an open hand, the sand remains where it is. The minute you close your hand and squeeze tightly to hold on, the sand trickles through your fingers. You may hold onto some of it, but most will be spilled. A relationship is like that. Held loosely, with respect and freedom for the other person, it is likely to remain intact. But hold too tightly, too possessively, and the relationship slips away and is lost (Kaleel Jamison).

I hate you but I need you


Bangun pagi tettt alarm bunyi jam 5.30, buka mata, tidur lagi, teeett 6.30, terpaksalah menyeret badan kekamar mandi, cuci muka, gosok gigi, minum susu yg katanya bisa membantu membentuk badan, pakai baju fitness, tidak lupa oles cream fat burning(katanya sih manjur), spatu olah raga dan meluncur ke tmpt kerja buat fitness gratis(hehehehe thanks to my handsome GM yg melengkapi gym di htl).

Saya bukan pencinta olah raga, buat saya dulu waktu remaja olah raga hanya pengisi waktu luang skalian nambah teman, karate dari SD krn asik aja belajar berantem, sepak bola waktu SMP krn guru olahraga soccer freaks and murid2xnya tanpa terkecuali yg cewek harus pemanasan lari 3x lapangan bola dan main bola di lapangan Banteng sebrang Kantor Pos Pusat yang di Jakarta, pake seragam bercelana pendek dan pulang belepotan lumpur karna main pas musim hujan. Walhasil dr kecil berat badan saya lumayan terjaga sampai saya beranjak SMA dan tidak ada lagi pemaksaan2x pembakaran kalori yg melelahkan hingga menyebabkan berat badan konstan bertambah.Pada saat umur 20an saya masih bisa menghindar dengan hanya mengurangi makan nasi dan kadang berenang buat main air dan kegiatan yang berjubel termasuk dugem yg buat saya olahraga malam yg menyenangkan karena tetap membakar lemak dan fun.

Sampailah saya di usia kepala 3, mulai setahun lalu berat badan saya bertambah 10kg (baju sudah banyak yg tidak muat, lemak sudah lebih kelihatan dimana2x ) mau tidak mau (krn diet karbohidrat sudah tak lg mempan, kemauan makan besar dan setan jail yg menyediakan makanan banyak) terpaksalah saya berolahraga, kali ini saya memilih fitness di kantor saja krn lebih efisien. Suami saya yg memang dulunya olahragawan dan masih care banget ma bentuk badannya (dan bentuk badan saya) merelakan dirinya jd personal instruktur, bikin program termasuk memaksa istrinya untuk menggerakkan badan dgn lebih semangat.

Buat saya yang paling melelahkan adalah lari dengan cardio krn membosankan, waktu 17 menit yg mestinya sebentar buat saya rasanya tahunan, dalam proses 17 menit lari itu berkali-kali saya harus mencambuk diri untuk trus berlari, berkali-kali rasanya ingin berhenti di tengah jalan dan trus berkata pada diri sendiri saya harus bisa bertahan dan berlari. Buat yg suka olahraga, 17 menit berlari di cardio mungkin cuma warming up yg santai, tp buat saya yg lebih milih tidur drpd olahraga, 17 menit itu nyiksaaa tp mau ngga mau harus dilakukan kalo saya masih mau keep my body as i want to (dan punya suami yg berbadan atletis jg punya beban tersendiri buat saya walaupun dia tetap mencintai saya seperti apapun my body shape later).

Anyway yg saya pelajari di 17 menit penyiksaan itu bahwa hidup kadang seperti lari cardio, harus terus memacu dan memotivasi diri meneruskan perjuangan, boleh merasa capek dan lelah tp harus terus berlari dan pada akhirnya kita akan memetik manis hasilnya. Siapa tau suatu saat akhirnya badan saya bisa seperti Angelina Jolie or Jennifer Lopez wkwkwkw tp untuk sementara saya cukup puas kalo saya akhirnya bisa memakai baju2x masa kejayaan saya dulu :)

Sikap Positif (copy dr group FB UKM III)

Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahun40-an.

Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokannya kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak didepannya dan bersegera mengisi air dingin ke dalam gelas.

Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan: "Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya khusus untuk insinyur..!!" Suara itu berasal dari mulut seorang insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut.

Remaja itu akhirnya hanya terdiam menahan haus. Ia tahu ia hanya anak miskin lulusan sekolah dasar. Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran, tapi keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang saat itu masih dikendalikan oleh manajeman Amerika.

Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya. Ia lalu bertanya-tanya: Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa segelas air saja dilarang untuk ku? Apakah karena aku pekerja rendahan,sedangkan mereka insinyur ? Apakah kalau aku jadi insinyur aku bisa minum? Apakah aku bisa jadi insinyur seperti mereka?

Pertanyaan ini selalu tengiang-ngiang dalam dirinya. Kejadian ini akhirnya menjadi momentum baginya untuk membangkitkan "SIKAP POSITIF" . Muncul komitmen dalam dirinya. Remaja miskin itu lalu bekerja keras siang hari dan melanjutkan sekolah malam hari. Hampir setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya.

Tidak jarang olok-olok dari teman pun diterimanya. Buah kerja kerasnya menggapai hasil. Ia akhirnya bisa lulus SMA. Kerja kerasnya membuat perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami ilmu. Ia dikirim ke Amerika mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master bidang geologi. Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia pulang kenegerinya dan bekerja sebagai insinyur.

Kini ia sudah menaklukkan ”rasa sakit”nya, kembali sebagai insinyur dan bisa minum air yang dulu dilarang baginya. Apakah sampai di situ saja. Tidak, karirnya melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar ketinggalan, dalam pekerjaan pun karirnya menyusul yang lain. Karirnya melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu.

Ada kejadian menarik ketika ia menjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu pernah mengusirnya, kini justru jadi bawahannya. Suatu hari insinyur tersebut datang menghadap karena ingin minta izin libur dan berkata; "Aku ingin mengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian air di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak membalas dendam, atas kekasaran dan keburukan perilakuku di masa lalu"

Apa jawab sang wakil direktur mantan pekerja rendahan ini: "Aku ingin berterimakasih padamu dari lubuk hatiku paling dalam karena kau melarang aku minum saat itu. Ya dulu aku benci padamu. Tapi, setelah izin Allah, kamu lah sebab kesuksesanku hingga aku meraih sukses ini.

Kini sikap positfnya sudah membuahkan hasil, lalu apakah ceritanya sampaidi sini?

Tidak. Akhirnya mantan pegawai rendahan ini menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut. Ia menjadi Presiden Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab.

Tahukan Anda apa perusahaan yang dipimpinnya? Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian American Oil Company)perusahaan minyak terbesar di dunia. Ditangannya perusahaan ini semakin membesar dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan. Kini perusahaaan ini menghasilakn 3.4 juta barrels (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20×1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas.

Atas prestasinya Ia ditunjuk Raja Arab Saudi untuk menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap dunia.

Ini adalah kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai saat ini (2011) menjabat Menteri Perminyakan dan Mineral Arab Saudi.

Terbayangkah, hanya dengan mengembangkan hinaan menjadi hal yang positif, isu air segelas di masa lalu membentuknya menjadi salah seorang penguasa minyak yang paling berpengaruh di seluruh dunia.

Itulah kekuatan"SIKAP POSITIF"

Kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain berperilaku terhadap kita.

Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan akan menimpa kita.

Tapi kita sepenuhnya punya kendali bagaimana menyikapinya.

Apakah ingin hancur karenanya? Atau bangkit dengan semangat "Bersikap Positif" dan menjadi bagian dari solusi.